Read Time:1 Minute, 45 Second

Suara.com – Sebelum adanya pandemi virus corona atau Covid-19, Pemerintah sangat optimistis menatap pertumbuhan ekonomi di level 5,3 persenan, tapi angka itu kini hanyalah mimpi karena pandemi, target semua indikator ekonomi buyar seketika.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu mengatakan, pemerintah tak ingin gegabah dalam merespons setiap kebijakan untuk melawan virus yang yang pertama kali muncul di Kota Wuhan Provinsi Hubei, China tersebut.

“Tapi Covid-19 di Indonesia terus muncak dan satu dua bulan terkahir daerah bisa jadi episentrum baru seperti di Jatim, Jateng dan Medan,” kata Febrio dalam sebuah diskusi bertajuk Mid-Year Economic Outlook 2020 yang diselenggarakan secara virtual, Selasa (28/7/2020).

Maka dari itu kata dia, pemerintah tak ingin asal dalam menciptakan kebijakan untuk merespons perkembangan kasus baru positif virus corona di tanah air.

“Kalau tahun ini kita bisa menerima kenyataan, tahun ini pertumbuhan ekonomi nggak akan tumbuh maksimal dan ini harus kita sadari. Tapi masalah covid ini memang harus ditangani dulu, karena kita bicara soal nyawa,” ucap Febrio.

Dia mencontohkan, kebijakan yang tak gegabah tersebut adalah ketika pemerintah tidak semuanya membuka sektor kegiatan sektor ekonomi, mengingat ancaman penularan masih cukup tinggi.

“Kita nggak bisa bergerak banyak, resto mungkin kalau buka kapasitasnya hanya setengah, bioskop, pabrik juga. Jadi jangan sampai sektor yang bisa kita buka itu malah menimbulkan second wave. Jadi tetap kita nggak bisa gegabah,” ucapnya.

WAJIB BACA  BRI Berkolaborasi dengan Telkom untuk Tingkatkan Layanan Satelit

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebut, semua negara-negara maju di kuartal kedua kondisi ekonominya merosot cukup tajam akibat pandemi virus corona atau Covid-19.

Termasuk juga Indonesia, meski nasibnya masih jauh lebih baik menurutnya. Sri Mulyani lantas mencontohkan semisal negara Amerika Serikat (AS), Inggris, Jerman dan Prancis yang dari banyak laporan menyebut kontraksi pertumbuhannya bisa minus double digit.

“Estimasi di Amerika bisa sampai menjadi mendekati 10 persen, di Inggris bisa 15 persen, di Jerman kontraksinya 11 persen, di Prancis minusnya bahkan sampai 17 persen, Jepang minusnya 8 persen, bahkan India yang selama ini dianggap negara berkembang seperti Indonesia yang pertumbuhannya diperkirakan bisa (minus) mencapai 12 persen,” kata Sri Mulyani.



SItus ini ini adalah situs aggregator berita. Artikel asli dimuat disini

Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleppy
Sleppy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *