Read Time:1 Minute, 12 Second

Suara.com – Indeks penjualan ritel Indonesia mengalami kontraksi sebesar 20,6 persen pada Mei, penurunan terbesar sejak 2008. Hal ini akibat dari penjualan pakaian yang jatuh dan pengeluaran yang besar dalam bidang budaya dan rekreasi. Kondisi ini merupakan hasil survei Bank Indonesia (BI), yang dirilis pekan ini.

Kontraksi lebih curam daripada April, yang mana penjualan ritel menyusut 16,9 persen tahun ke tahun (yoy).

Hal ini menyusul diperkenalkannya pembatasan sosial skala besar (PSBB) pada April dan Mei untuk mengekang penyebaran Covid-19 .

“Kinerja penjualan ritel akan membaik pada bulan Juni meskipun masih dalam fase kontraksi,” bank sentral menyatakan dalam survei.

Bank sentral memproyeksikan penurunan penjualan melambat menjadi 14,4 persen pada Juni, karena penjualan makanan dan minuman yang lebih tinggi, serta bahan bakar kendaraan, karena Indonesia secara bertahap membuka kembali perekonomian, tambah situs broker IQ OPTION.

Menurut survei, pengeluaran untuk pakaian di Mei turun 74 persen yoy, sementara belanja untuk rekreasi turun 53,7 persen yoy, dan bahan bakar kendaraan turun 45,4 persen yoy.

Pandemi Virus Corona telah menghantam ekonomi Indonesia tahun ini. Pemerintah memperkirakan, pertumbuhan setahun penuh hanya mencapai 1 persen di bawah skenario dasar, atau bagi ekonomi berkontraksi 0,4 persen di bawah skenario terburuk.

Indonesia mencatat pertumbuhan PDB terendah dalam 19 tahun pada kuartal pertama sebesar 2,97 persen. Wabah Covid-19 memaksa orang untuk tinggal di rumah, sehingga mengganggu kegiatan ekonomi.

WAJIB BACA  Rekor! Harga Emas Antam Tembus Rp 1.022.000 per Gram



SItus ini ini adalah situs aggregator berita. Artikel asli dimuat disini

Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleppy
Sleppy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close