Read Time:2 Minute, 3 Second

loading…

BOGOR – Perayaan Idul Adha 2020 terasa berbeda dengan tahun sebelumnya karena tahun ini dirayakan di tengah pandemi Covid-19. Meski demikian, Idul Adha atau yang dikenal juga sebagai hari raya kurban subtansinya untuk menekan ego dan mengutamakan kepentingan yang lebih besar.

Hal demikian disampaikan oleh Wali Kota Bogor Bima Arya yang didampingi oleh wakilnya Dedie Rachim usai melakukan Salat Idul Adha 1441 Hijriyah di Masjid Agung Al Mi’raj Bogor, Jalan Pajajaran, Bogor Timur, Jumat (31/7/2020). (Baca juga: Momentum Idul Adha, Menkes Terawan: Tetap Terapkan Protokol Kesehatan)

“Sekarang ini bencana disebabkan karena banyak orang egois. Jadi demi kesenangan sendiri membahayakan orang lain. Kita harus menekan ego kita. Ada yang bilang pakai masker tidak enak, jaga jarak tidak enak, menahan untuk nongkrong-nongkrong juga tidak enak. Tapi sekarang semua harus ditekan. Di Kota Bogor ada enam keluarga terpapar Covid, ini jadi kluster penyebaran Covid. Bahkan ada satu keluarga yang jumlahnya 14 orang,” jelasnya.

Adanya kluster tersebut, lanjut Bima, karena ketidakdisiplinan anggota keluarga. “Egois menganggap dirinya tidak membahayakan. Habis dari luar kota, tidak isolasi, langsung kontak dengan keluarga, pegang orang yang punya komorbid itu bahaya sekali. Bisa meninggal. Jangan egois. Substansi kurban hari ini adalah itu, menekan ego kita,” kata Bima.

WAJIB BACA  Pemikiran Tentang Bunuh Diri Tak Boleh Dianggap...

Substansi lain dari Idul Adha tahun ini, kata Bima adalah momentum untuk menguatkan kebersamaan. Menurutnya, saat ini perang umat manusia sedang berperang. Maka dari itu, pihaknya mengajak masyarakat untuk merapatkan barisan.

“Tidak boleh terpecah-pecah. Yang kita lawan hari ini adalah pemahaman yang keliru tentang Covid-19. Terutama teori konspirasi. Konspirasi itu berbahaya kalau diyakini secara akidah. Pertama, itu suudzon. Berpikir jelek kepada orang lain, berpikir jelek kepada pemerintah. Ajaran agama mengajarkan kepada kita untuk husnudzon. Agama juga mengajarkan kita untuk muhasabah, evaluasi diri. Bukan menyalahkan orang lain. Teori konspirasi itu menyalahkan orang lain,” bebernya.

Bima menambahkan, orang yang percaya teori konspirasi berarti tidak mengimani ajaran agama. “Bahaya. Saya lihat di sosial media teori konspirasi ini masih banyak pengikutnya. Ini ujian keimanan, bukan hanya ujian kesehatan. Meyakini teori konspirasi itu berarti keimanan kita kurang kuat. Jadi Covid ini kenyataan, bukan khayalan. Teori konspirasi itu khayalan,” imbuhnya.

“Ini tugas bersama membangun narasi besar tentang ujian keimanan itu. Terakhir saya minta warga Bogor tetap waspada ini situasinya masih belum aman. Ada kluster keluarga, ada klister perkantoran, ada kluster luar kota atau imported case. Saya berterimakasih jamaah sholat Ied tadi menjaga protokol kesehatan,” tutupnya.

(mhd)



SItus ini ini adalah situs aggregator berita. Artikel asli dimuat disini

WAJIB BACA  SIG dan BTN Teken Kerjasama Percepatan Pembangunan Perumahan
Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleppy
Sleppy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close